MASIH DI TEMPAT YANG SAMA
Ada satu nama yang tak pernah benar-benar hilang dari benakku.
Waktu telah berjalan jauh, banyak hal datang dan pergi, tapi ada yang tetap tinggal — perasaan yang diam-diam tumbuh dan enggan layu, meski tak pernah disiram kembali.
Kita pernah berjalan beriringan, meski tak pernah benar-benar berdampingan.
Aku tahu arah langkahmu tak pernah menuju ke tempatku berdiri. Tapi entah kenapa, aku tetap di sini, di tempat pertama aku merasa sesuatu yang berbeda. Bukan sekadar kagum, bukan sekadar nyaman — tapi lebih dari itu, meski aku sendiri tak pernah berani menyebutnya dengan lantang.
Hari demi hari aku menyaksikanmu tertawa, bertumbuh, dan menemukan seseorang yang membuat matamu lebih hidup. Aku tak pernah ada di dalam cerita itu. Hanya bayangan samar di belakang panggung, menyaksikan semuanya dengan diam.
Dan meskipun logika berkata untuk berhenti, hati punya cara sendiri untuk bertahan.
Aku mencoba mengalihkan pandangan, membuka lembar baru, menulis cerita lain. Tapi tiap kalimat selalu berujung padamu. Bukan karena tak ada pilihan lain, tapi karena tak ada yang terasa sama.
Mereka bilang waktu menyembuhkan.
Mungkin benar, tapi ada luka yang tak benar-benar hilang, hanya terbiasa dibawa kemana-mana. Aku tak lagi berharap kau menoleh, tak lagi menanti sesuatu yang tak pasti. Aku hanya ingin jujur, bahwa hingga kini… perasaan itu masih ada.
Tenang saja, tak ada yang perlu kau balas.
Aku sudah cukup dengan pernah mengenalmu, cukup dengan diam-diam menjagamu dari jauh. Dan jika suatu hari kau bertanya kenapa aku tetap di tempat yang sama… jawabannya sederhana: kadang, ada rasa yang tak butuh akhir bahagia. Ia hanya butuh dikenang, dengan tenang.

Komentar
Posting Komentar