Surat Sunyi Kepada Tuhan
untuk Tuhan yang mungkin masih mendengar
Tuhanku,
Hari ini aku menulis, bukan karena aku yakin seperti dulu.
Tapi karena diamku terlalu berat,
dan mulutku terlalu lelah menahan semua pertanyaan.
Aku tidak datang membawa doa yang indah,
tidak juga selembar iman yang utuh.
Yang kubawa hanya serpih-serpih keyakinan
yang terkikis oleh waktu, oleh luka, oleh dunia yang terlalu bising.
⸻
Tuhanku,
Aku pernah mencintai-Mu dengan cara yang polos.
Aku percaya surga, neraka, pahala, siksa semua dengan mata anak kecil yang patuh.
Tapi sekarang aku dewasa,
dan kebenaran tak lagi semudah hitam-putih.
Aku mulai bertanya,
bukan karena aku benci,
tapi karena aku ingin mengenal-Mu tanpa topeng,
tanpa takut, tanpa paksaan.
⸻
Kadang aku takut,
jika pertanyaanku membuat-Mu marah.
Jika keraguanku membuat-Mu berpaling.
Tapi di sisi lain…
jika Engkau memang Maha Tahu,
bukankah Engkau tahu bahwa aku tidak sedang membangkang
aku hanya ingin mengerti.
⸻
Tuhanku,
Jika Kau marah karena aku ragu,
maka marahlah , tapi jangan tinggalkan aku.
Jika Kau kecewa karena aku menjauh,
maka kecewalah , tapi tetap biarkan aku memanggil nama-Mu
di sela-sela malam yang dingin,
meski hanya sebagai gumaman ragu yang lelah.
⸻
Tuhanku,
Aku tidak tahu apakah aku masih percaya seperti dulu.
Tapi aku tahu:
aku masih ingin percaya.
Dan mungkin… itu cukup untuk Kau dengar.
Aku tidak datang membawa iman.
Aku datang membawa kerinduan untuk percaya lagi,
tanpa takut, tanpa pura-pura.
Dari aku,
yang pernah yakin,
kini sunyi,
tapi masih mencari.

Komentar
Posting Komentar