Saat mimpi memeluk rindu
Seandainya sejak awal kutahu bahwa mimpi adalah satu-satunya tempat yang masih mempertemukan kita, niscaya akan kututup kedua mataku sepanjang usia. Pada suatu malam, engkau hadir dalam lelapku. Seketika, segala duka yang lama bersemayam di dada luruh tanpa sisa. Aku mengira kehadiranmu adalah kenyataan, bukan sekadar bunga tidur yang singgah sesaat. Namun ketika fajar membangunkanku, aku kembali dipeluk oleh perpisahan, seolah kehilanganmu harus kurasakan untuk kedua kalinya. Sejak itu, aku mencintai tidur, bahkan pada waktu yang bukan semestinya, hanya demi berharap dapat bersua lagi denganmu di alam mimpi. Sebab mimpi-mimpi selalu membisikkan bahwa engkau masih dapat kutemui. Ah, andai setiap mimpi memiliki wujud, niscaya tak ada lagi perpisahan yang harus kutangisi.