MASIH DI TEMPAT YANG SAMA
Ada satu nama yang tak pernah benar-benar hilang dari benakku. Waktu telah berjalan jauh, banyak hal datang dan pergi, tapi ada yang tetap tinggal — perasaan yang diam-diam tumbuh dan enggan layu, meski tak pernah disiram kembali. Kita pernah berjalan beriringan, meski tak pernah benar-benar berdampingan. Aku tahu arah langkahmu tak pernah menuju ke tempatku berdiri. Tapi entah kenapa, aku tetap di sini, di tempat pertama aku merasa sesuatu yang berbeda. Bukan sekadar kagum, bukan sekadar nyaman — tapi lebih dari itu, meski aku sendiri tak pernah berani menyebutnya dengan lantang. Hari demi hari aku menyaksikanmu tertawa, bertumbuh, dan menemukan seseorang yang membuat matamu lebih hidup. Aku tak pernah ada di dalam cerita itu. Hanya bayangan samar di belakang panggung, menyaksikan semuanya dengan diam. Dan meskipun logika berkata untuk berhenti, hati punya cara sendiri untuk bertahan. Aku mencoba mengalihkan pandangan, membuka lembar baru, menulis cerita lain. Tapi tiap kalimat ...

Komentar
Posting Komentar